Berkaca
Berkaca pada masa mengingatkanku akan setiap kata yang teruntai dari lisan yang manis dan penuh kata rayuan. Membuatku limbung pada ketidakberdayaan.
Semakin riuh ramai suara di kepala. Mencoba untuk memahami, menerima, mengerti dan terus mengharap. Tapi lagi-lagi kepada manusia yang kutemui hanya ilusi semata.
Semakin banyak penerimaan juga penyangkalan, sekaligus jalan keluar yang amat memberatkan. Tapi kemudian aku sadar kita bukanlah apa-apa.
Ikatan yang terjalin seolah menjadi batasan bahwa aku tak mau lagi terjerat dalam kesalahan. Lantas menjadikan hari-hari yang lalu sebagai suatu kesimpulan dari ketidaktegasan.
Harusnya aku mengambil sikap dari setiap prinsip yang sudah tegak. Seharusnya aku mengambil jarak untuk tidak terjerat. Seharusnya dan seharusnya. Tapi nyatanya segalanya adalah pelajaran dan selalu ada hikmahnya bukan?
Sejak awal aku hanya melihat, dari seberapa kuat sebuah usaha. Nyatanya aku lah wanita. Yang mudah tergoda oleh berbagai jenis kata manis yang membawa cinta.
Katanya tulus yang sedalam hati, tapi entah semua seolah pergi, meninggalkan sepenggal hati yang kini terus meratapi. Aku menerima untuk kemudian belajar sebuah arti.
Apakah kita akan jadi dua manusia yang sejalan ataukah hanya dua orang yang pernah beririsan? Mari kita serahkan kepada semesta. Karena sudah ku meminta kepada Ia Yang Maha Cinta.
Kini setelah usaha dan doa yang selalu dilantun dan langitkan, kini hanya kuasaNya yang mampu balikkan. Tapi jika ia kembali aku hanya ingin terus diyakinkan, bahwa segala keputusan adalah sebuah takdir yang menenangkan juga menyenangkan untuk dinantikan.
Komentar
Posting Komentar