Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2023

Tentang aku

Kemarin aku baru belajar watak. Dan aku temukan satu hal selain ke-introvert-an ku ternyata watakku adalah plegmatis, melankolis. Ga heran si plegmatis ini orangnya ngantukan, karna separuh energinya udah digunakan untuk menahan emosi. Aku jadi sadar kenapa aku ga pernah marah bahkan saat anak-anak dikelas terasa sulit untuk dibilangin, aku menyimpan emosi tersebut dalam diri, cenderung mengingkan kedamaian, makanya rasanya ba'da magrib aja aku udah ngerasa capek, lelah dan ingin tidur. Ternyata aku si plegmatis.  Terus melankolis pula, cenderung ingin rapi dan disiplin, tidak menyukai spontanitas dan lebih suka terencana. Bagiku selama bisa kurencanakan supaya lebih nyaman perjalanan kenapa mesti serba spontan? Tapi bukan berarti aku ga suka spontanitas, kadang aku juga random kok orangnya, kerandoman adalah bentuk spontanitas bukan? Terus mungkin pengaruh lingkungan membuatku sedikit sanguinis yang gembira dan ramah, juga sedikit koleris yang kadang ingin serba cepat alias satset...

Memory

Pernah kutemui seorang lelaki yang kata-katanya amat manis. Seolah tidak ada yang mampu tandingi semua ucapannya. Tapi tersadar ucapan manis itu kini tinggal kenangan, menyisakan sebuah tanya yang begitu dalam.  Dari begitu banyaknya waktu yang telah dihabiskan, mengapa disaat aku yakin untuk melangkah kau tinggalkan begitu saja? Menyimpan sejuta tanya yang tak mampu ku utarakan. Bukannya tak ingin kutanyakan, hanya saja saat itu segalanya hanya alasan yang tidak ingin kudengarkan.  Aku yang ingin tenang dan damai merasa duniaku terabai oleh suara tangis yang dihasilkan dari bola mata yang sendu dan kian ramai. Ramai dari bulir-bulir air yang terasa hangat ke pipi dan membasahi seluruh tepi.  Yang terpikir olehku adalah jika memang itu maumu dan keputusanmu aku tak akan menghakimi, dan tak pula aku akan memohon, tidak juga meminta kau tuk kembali. Karena bagiku segalanya menjadi abu, bukan lagi hitam atau putih.  Hari-hariku kemudian menjadi seperti seonggok manusia ...

Berkaca

Berkaca pada masa mengingatkanku akan setiap kata yang teruntai dari lisan yang manis dan penuh kata rayuan. Membuatku limbung pada ketidakberdayaan.  Semakin riuh ramai suara di kepala. Mencoba untuk memahami, menerima, mengerti dan terus mengharap. Tapi lagi-lagi kepada manusia yang kutemui hanya ilusi semata.  Semakin banyak penerimaan juga penyangkalan, sekaligus jalan keluar yang amat memberatkan. Tapi kemudian aku sadar kita bukanlah apa-apa.  Ikatan yang terjalin seolah menjadi batasan bahwa aku tak mau lagi terjerat dalam kesalahan. Lantas menjadikan hari-hari yang lalu sebagai suatu kesimpulan dari ketidaktegasan.  Harusnya aku mengambil sikap dari setiap prinsip yang sudah tegak. Seharusnya aku mengambil jarak untuk tidak terjerat. Seharusnya dan seharusnya. Tapi nyatanya segalanya adalah pelajaran dan selalu ada hikmahnya bukan?  Sejak awal aku hanya melihat, dari seberapa kuat sebuah usaha. Nyatanya aku lah wanita. Yang mudah tergoda oleh berbagai je...

Seuntai rindu untuk dirimu

 Kekasihku, rasanya baru kemarin kita bergurau, bercanda tertawa bersama, lalu saat ini kita sudah kembali menabung rindu.  Dirimu dekat, tapi rasanya begitu jauh. Jalan yang kita pilih begitu berat tapi selama ini membawaku dan dirimu dijalan taat akan aku jalani walau dengan godaan dan keinginan kian berat untuk segera berjumpa.  Inginku cepat, berlalulah waktu, tibalah segera. Tapi lagi-lagi dirimu yang kutunggu sedang bersiap-siap untuk berlabuh. Apa dayaku, nyatanya dirimu memang butuh waktu. Tak pernah ada benci dalam hatiku, selalu kusiapkan tempat terbaik untuk kau ke pelukanku.  Sayangku.. sungguh rindunya diriku, berat sekali rasanya beban ini untuk kutanggung. Datanglah segera sayang, rasanya sebulan berlalu begitu lamban saat kita berpisah.  Biasanya pesan whatsApp menjadi pengobat kala rindu menghampiri dan kan kukatakan dengan setulus hati bahwa aku rindu. Tapi kali ini, tak ada pesan whatsApp, tak ada interaksi, tak ada sapaan hangat dan tak ada o...