Memory
Pernah kutemui seorang lelaki yang kata-katanya amat manis. Seolah tidak ada yang mampu tandingi semua ucapannya. Tapi tersadar ucapan manis itu kini tinggal kenangan, menyisakan sebuah tanya yang begitu dalam.
Dari begitu banyaknya waktu yang telah dihabiskan, mengapa disaat aku yakin untuk melangkah kau tinggalkan begitu saja? Menyimpan sejuta tanya yang tak mampu ku utarakan. Bukannya tak ingin kutanyakan, hanya saja saat itu segalanya hanya alasan yang tidak ingin kudengarkan.
Aku yang ingin tenang dan damai merasa duniaku terabai oleh suara tangis yang dihasilkan dari bola mata yang sendu dan kian ramai. Ramai dari bulir-bulir air yang terasa hangat ke pipi dan membasahi seluruh tepi.
Yang terpikir olehku adalah jika memang itu maumu dan keputusanmu aku tak akan menghakimi, dan tak pula aku akan memohon, tidak juga meminta kau tuk kembali. Karena bagiku segalanya menjadi abu, bukan lagi hitam atau putih.
Hari-hariku kemudian menjadi seperti seonggok manusia yang hidup tapi tak memiliki daya, ingin bangkit namun berat hati seolah mencegah kakiku untuk pergi. Ingin lupa namun tak bisa.
Seringkali kurasakan hangat mengalir di pipi, mataku memanas dan memerah, hidungku mengeluarkan bunyi sesenggukan, kembali teringat akan sebuah janji yang pernah terucap yang kemudian tak tahu haruskah aku tetap berpegang atau harus kulepaskan?
Apakah hanya aku seorang yang terasa merana? Pernahkah dirimu disana merasakan yang sama? Kita menjadi seperti dua yang terasing. Bagai tak pernah ada kata sayang yang pernah terucap dari kita.
Selanjutnya, Allah memberiku sebuah ujian, kucoba mengubungi dirimu mencari sebuah pertolongan. Tapi dirimu tak juga datang. Bukan karna ku katakan tak perlu datang lantas kau tak datang, setidaknya datanglah hanya untuk melihatku baik-baik saja lalu kau boleh kembali pergi dan tak perlu peduliku lagi.
Masa-masa itu bagiku adalah masa yang berat, aku tidak butuh pertolongan, yang kuinginkan adalah sebuah kehadiran, yang membuatku tetap waras, yang menyemangati dan mendukungku untuk pulih. Tapi dirimu tak juga hadir, seolah aku tak pernah ada dalam hidupmu.
Masih sering teringat dan terkadang masih ingin meyakini bahwa kelak kau akan datang kepadaku, beserta keluargamu, datang melamarku. Tapi entah ini hanya harapanku kepada Rabbku, bukan kepadamu. Karena berharap kepadamu adalah patah hati yang disengaja untuk kesekian kali.
Kini aku sudah pasrah, akan apapun jalan yang Ia berikan untuk ku, ingin aku melepas semuanya, untuk kutemui lagi segala ketenangan didalam hatiku.
Komentar
Posting Komentar