Interconnectedness

Hidungku basah, seolah menanti untuk bersimbah. Mataku panas, mencoba menahan luapan yang akan segera terhempas. Ingin merintih, namun aku berada pada tempat dan waktu yang tidak tepat. 

Seperti yang selalu kukatakan, aku sudah baik-baik saja. Sudah kuserahkan segala kepada Yang Kuasa. Biar kini giliran Dia yang mengerahkan sisanya. 

Hatiku sudah ikhlas, walau terkadang perih seringkali terasa. Beberapa waktu ke belakang bahkan dadaku terasa sakit, mungkinkan itu yang kau sebut bergemuruh? 

Pernahkah kau merasa bahwa kita ini saling terhubung? Entah karna pikiran kita atau karna magnet yang ada dalam qalbu kita. Terkadang aku seperti merasa begitu. 

Tapi rupanya keterhubungan itu tak bisa kita utarakan, hanya mencoba untuk merasakan, bahwa saat itu, saat aku terpikirkan dirimu kaupun begitu. Entah ini keinginan, harapan atau ternyata sebuag teori yang benar adanya. 

Kata interconnectedness belakangan ini terus tertempel di kepalaku. Aku juga seringkali merasa jika mungkin aku sedang dibicarakan, tapi entah oleh siapa dan membicarakan apa, semoga itu bukan hal buruk tentangku. 

Aku juga belakangan terpikir akan sebuah kata-kata, jangan terus berpikir apa yang diberikan orang kepada kita, tapi berpikirlah apa yang bisa kita berikan kepada mereka. 

Kadang kata itu begitu tertanam, membuatku mengingat sosok ibu dan adik perempuanmu. Terkadang aku rindu ingin bertemu, tapi kuurungkan niat tersebut. Tidak. Selama kau belum datang kerumahku. Semoga Allah berkenan terhadap kita, senantiasa dibimbing langkah kita dalam jalan yang diridhoi-Nya. Aamiin. Semoga. 

 

Komentar