Adu ku Rabbi
Saat ini, saat segalanya merasa tenang, pikiranku pun tenang, hatiku pun tenang, segalanya telah mampu ku uraikan, setiap benang-benang yang semula kusut sudah mampu ku rangkai menjadi lebih padu, ku dengar kabar itu.
Kabar aku dan orang lain, kedekatanku dengan seseorang ini, dikira sebagai sesuatu yang menyalahi, padahal yang kulakukan selama ini adalah bentuk kepedulian, kebaikan seorang teman dan kekompakan bersama, dianggap sebagai sesuatu yang harus disegerakan, kabar kedekatan kami katanya harus disegerakan, padahal jika dipikir bagaimana aku bisa menyegerakan, sedang bukan aku kunci dari keputusan itu.
Ya Allah, saat aku minta bukalah yang selama ini terhijab dariku, ternyata ini ya Allah, seseorang yang membicarakanku dibelakang. Ya Allah jika kebaikanku dianggap aib, bagaimana aku kemudian harus bersikap? Jika kepedulianku dianggap sesuatu yang tabu, bagaimana seharusnya kita bersikap empati dan peduli terhadap orang lain?
Apakah lembaga ini, lembaga yang begitu menjerat leher kami untuk berbuat baik terhadap orang lain? Terutama jika kawan kami adalah lawan jenis. Aku tahu bagaimana harus bersikap terhadap lawan jenis, tapi tak bolehkah kebaikan tetap berjalan? Tak bolehkah peduli terhadap satu sama lain? Bukankah sejatinya kami adalah satu bangunan yang satu sama lainnya saling menguatkan. Tapi untuk menguatkan yang lawan jenis saja itu sungguh dianggap aib. Ya Allah sungguh kebaikanku ini ku niatkan karena Mu, untuk Mu. Tak ada maksud dan niat lain dalam hatiku ya Allah. Salahkah aku yang polos ini?
Tak pernah ada yang terjadi antara kami. Tapi jika harus memilih aku pun tak menolak. Masalahnya apakah ia mau dan setuju? Apakah ia siap?
Yang pernah datang dengan serius aja kemudian harus mundur, karena belum siap tapi dengan dalih introspeksi diri dan membangun rindu yang subur.
Ya Allah, karuniakan aku cintaMu, kasih sayangMu, rahmatMu, penuhilan ruang hatiku oleh cintaMu dan RasulMu, sehingga aku tak perlu mengemis cinta manusia, sehingga aku tak berharap kepada cinta manusia, sehingga aku tak merasa kecewa oleh manusia. KepadaMu lah aku berharap Rabbi, kepadaMu aku kembali, kepadaMu aku berhukum, kepadaMu aku rindu, kepadaMu aku mengadu. Jagalah aku ya Allah, dari segala persangkaan manusia, jaga aku dari kejahatan makhluk dan manusia, jaga aku dari kejahatan hawa nafsuku, jaga aku dari bisikan setan yang menggebu, jaga aku dari angan dan pengharapan yang semu.
KepadaMu ya Rabbi sesungguhnya aku mengadu, kepada siapa lagi jika bukan engkau tempat pulangku? Ya Allah sejatinya aku ingin pulang dalam keadaan terbaik, dengan bekal terbaik, dan menuju tempat terbaik.
Aku mohon jodoh terbaik Rabbi, yang bisa membimbing ku kepadaMu, meningkatkan kecintaan ku kepada Mu dan RasulMu.
Komentar
Posting Komentar