Pintaku Rabbi

Badai itu pasti datang, ombak akan mengombang-ambingkan kapal kita dilaut lepas. Tapi percayakah dirimu, selama kita punya Allah, kita punya pelindung terbaik. 

Cobaan akan mendera, hari-hari bisa saja naik turun layaknya gelombang. Tapi tenang, selama yang kita pegang Allah, kita punya penyelamat dan penolong terbaik. 

Bukankah sejatinya kita sedang menuju padaNya? Melalui jalan cinta yang setapak demi setapak kita panjat dalam naungan ridho dan cintaNya? Lantas mengapa kita harus takut terantuk, terjatuh, dan terseok? Padahal sekalipun terantuk, terjatuh dan terseok kita selalu punya Dia tuk berpegang? 

Apa yang kita cari dari kehidupan yang fana? Apa yang ingin kita warisi pada akhir hidup kita? Apa yang ingin kita tinggalkan sebagai jalan hidup kita? 

Tak ada lagi ambisi terhadap dunia, karena ia akan kecewa. Tak ada lagi pengharapan kepada manusia, karena telah kutemukan kecewa. Ya rabbi, padamulah diri ini kembali. Kepadamulah sejatinya cinta ini kuberi. Kepadamulah rindu ini terpatri. Kepadamulah air mata ini membanjiri. Kepadamulah segalanya kupasrahi. Ya rabbi, jika ini caraMu mencintaiku, maka aku rela dan ikhlas akan setiap ketetapan takdirMu. Jika air mata ini adalah caraMu memelukku, maka biarlah air mata ini terus basah hanya dihadapanmu. Peluk aku ya rabbi, sayangilah aku, cintailah aku, sehingga aku tidak perlu mengemis cinta manusia. Jadikanlah orang yang mencintaiku karena akhlak ku dihadapanMu ya Allah, karena ibadahku kepadaMu, karena aku hambaMu. 

Ya Allah, aku pun ingin menjalankan apa yang menjadi jalan hidup RasulMu, menyempurnakan separuh dien ku, menjaga kesucian diriku, menjalani ketaatan dijalanMu, mewarisi kecintaanku kepadaMu dengan hadirnya anak dan keturunan yang Kau ridho kepada mereka untuk meneruskan kekhalifahan di muka bumi ini. Segerakan waktuku ya Allah, pada orang yang tepat, pada partner terbaik yang Kau kirim sebagai penyejuk hatiku, dan akupun penyejuk hatinya. 

Komentar